etika wisata luar angkasa

dampak lingkungan roket bagi satu persen orang terkaya

etika wisata luar angkasa
I

Pernahkah kita menatap langit malam dan bermimpi menjadi seorang astronaut? Sedari kecil, kita diajarkan bahwa menembus bintang-bintang adalah puncak pencapaian umat manusia. Dulu, mereka yang pergi ke luar angkasa adalah pahlawan. Para ilmuwan dan pilot berani yang membawa harapan miliaran penduduk Bumi di pundak mereka. Tapi coba kita percepat waktu ke hari ini. Pemandangannya sedikit berubah. Kita tidak lagi melihat pahlawan berwajah tegang di dalam kapsul, melainkan miliarder bertopi koboi yang sedang tersenyum lebar. Luar angkasa kini telah menjadi taman bermain eksklusif bagi satu persen orang terkaya di dunia. Menonton mereka meluncur memang seru dan menghibur. Namun, saat asap tebal dari roket itu mulai mengepul, pernahkah kita menyadari ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati?

II

Mari kita bedah sedikit fenomena ini dari kacamata psikologi dan sejarah. Kenapa orang-orang super kaya ini sangat berhasrat menyentuh batas tata surya? Dalam dunia psikologi antariksa, ada fenomena yang disebut overview effect. Ini adalah perubahan kognitif yang dialami astronaut saat melihat Bumi dari kejauhan. Sebuah bola biru kecil yang rapuh, tanpa batas negara, melayang di kehampaan yang gelap. Pengalaman ini konon melahirkan empati yang luar biasa. Sejarah mencatat, era Apollo dibangun di atas fondasi perlombaan teknologi dan sains. Tapi wisata luar angkasa masa kini? Ini lebih menyerupai sebuah ego trip. Sebuah pembuktian status sosial bahwa mereka bisa membeli sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh 99 persen populasi lainnya. Tidak ada salahnya menghamburkan uang hasil keringat sendiri, bukan? Sayangnya, tiket ke luar angkasa ini tidak hanya dibayar dengan uang. Ada tagihan lain yang diam-diam sedang dicetak.

III

Sekarang, mari kita bicara tentang keseharian kita di Bumi. Teman-teman pasti tahu betapa lelahnya kita mencoba menjadi pahlawan lingkungan. Kita menolak sedotan plastik. Kita membawa tas belanja sendiri. Kita merasa bersalah saat membiarkan AC menyala terlalu lama. Kita melakukan itu semua demi mengerem laju perubahan iklim. Tapi di saat yang sama, sebuah roket komersial meluncur membelah langit. Asap putih raksasa yang terlihat begitu gagah dan sinematik itu sebenarnya menyembunyikan sebuah ironi yang gelap. Roket tidak meluncur dengan udara kosong. Mereka membakar berton-ton bahan bakar kimia dalam hitungan menit. Pertanyaannya kemudian, ketika kita di bawah sini sibuk memilah sampah organik dan non-organik, apa sebenarnya yang sedang ditinggalkan oleh roket-roket wisata itu di atas kepala kita?

IV

Di sinilah sains yang keras (hard science) berbicara, dan faktanya cukup membuat kita menelan ludah. Masalah utamanya bukan sekadar emisi CO2 biasa, melainkan apa yang disebut sebagai black carbon atau jelaga. Roket melepaskan jelaga ini langsung ke stratosfer atas. Karena berada sangat tinggi di atmosfer, tempat di mana tidak ada hujan untuk mencucinya, jelaga ini menumpuk dan bertahan bertahun-tahun. Tahukah teman-teman? Jelaga di stratosfer ini menyerap panas matahari 500 kali lebih kuat daripada emisi jelaga di permukaan Bumi. Belum lagi, gas buang dari roket padat perlahan-lahan mengikis lapisan ozon kita, perisai yang susah payah kita pulihkan sejak era 80-an. Dan ini fakta yang paling menyesakkan: emisi karbon dari satu orang turis luar angkasa dalam penerbangan 10 menit, jumlahnya 50 hingga 100 kali lebih besar dibandingkan total jejak karbon seumur hidup dari rata-rata satu manusia di Bumi. Bayangkan, puluhan tahun usaha daur ulang kita hangus terbakar hanya demi 10 menit kesenangan satu orang kaya yang ingin merasakan melayang tanpa gravitasi.

V

Saya mengajak kita semua merenungkan hal ini bukan untuk membenci sains atau kemajuan teknologi. Eksplorasi luar angkasa tetaplah penting. Kita butuh roket untuk mengirim satelit cuaca, sistem navigasi, dan teleskop untuk memahami alam semesta. Tapi wisata luar angkasa (space tourism) adalah cerita yang sama sekali berbeda. Ini adalah persoalan etika. Bumi kita sedang demam tinggi, cuaca semakin ekstrem, dan sumber daya semakin menipis. Apakah etis membakar atap rumah kita sendiri, melepaskan racun ke udara, hanya agar segelintir orang beruntung bisa melihat atap itu dari atas? Pada akhirnya, overview effect yang seharusnya memicu empati pelestarian Bumi justru dicapai dengan cara merusak Bumi itu sendiri. Mungkin sudah saatnya kita berhenti terlalu mengagumi mereka yang menghabiskan miliaran dolar untuk terbang menjauh. Sebaliknya, mari kita berikan apresiasi terbesar kita bagi mereka yang tetap berpijak, berjuang, dan merawat satu-satunya rumah yang kita miliki bersama ini.